Pages

Monday, 4 July 2011

3 KOTA DAN AKU

Di jogja aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk

di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?


Jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu

kemanakah harus ku hadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga


surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua

tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya jika aku mendekatinya

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

DIRIKAN SHOLATMU

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya

Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri

Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup

Ilmu dan peradaban takkan sampai Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali

Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika

Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan

Sunday, 12 June 2011

LIRIH

Pelan bibirmu berbisik
" yudi,jangan pergi!!,betapa ku ingin kau disini temaniku menyayat hari mengiris malam,ku mohon"

Ku hanya mampu membisu nikmati senandung lirihmu dan memang lbh baik diam...
Krn ku nikmati ketenangan
kedamaian di sela kegalauan hati oleh caci maki mulut kotor

aaargghh...
Sungguh perjalanan yg aneh dan tak dapat ku mengerti
kenapa langkahku membawaku ke altar hatimu..
Unt kau semaikan
kau sanjungi...
Hilangkan sadarku bahwa ini persinggahan

saatnya aku harus pergi
kenapa masih sempat tinggalkan tawa dan luka mengangah

lirih ku dengar suaramu
"jangan pergi"