Pages

Showing posts with label SUFI. Show all posts
Showing posts with label SUFI. Show all posts

Friday, 8 April 2011

BURUNG PIPIT

Seekor burung pipit ingin
memadamkan api yang
membakar Masjid .
Berulang-ulang menyiramkan air
yang
ia bawa dengan paruhnya..
Semua bangsa burung
mencemoohnya
.

'' hai pipit apa
yang engkau lakukan ? ''

'' Sadarkah apa yang engkau
lakukan itu sia-sia..? ''.celetuk yg
lain

'' Bagaimana mungkin api sebesar
itu akan engkau padamkan
dengan setetes air? '' yg lain tak
mau kalah

Si pipit menjawab :
'' wahai
kawanku ...aku hanya
melaksanakan niatku..
soal apakah aku berhasil atau
sia-sia...!! bukanlah urusanku ,
itu adalah urusan Sang
Penciptaku
'' .

Si pipit pun meneruskan niatnya
.
Lalu bagaimana kisah
selanjutnya?
Apakah Sipipit sia-sia..?
?
Ataukah berhasil dengan bantuan
siraman hujan yang dikirim Sang
Penciptanya?

Ya Allah Ya Rabb..Kehendak dan
Kuasa-Mu tak terbatas
Kepada siapa akan ENGKAU
berikan kemuliaan itu..
tak akan ada yang mampu
menahan MU.....
Tak ada yang tak mungkin bagi
-Mu Ya Rabb....

Thursday, 7 April 2011

KANG SEJO

gathot kaca itu sufi.ia satrio pandito.tiap saat seperti tidur,padahal berzikir qolbi.jasad di bumi roh menemui tuhan.ini turu lali.mripat turu ati tangi.biar masih muda, hidup gathotkoco seimbang,satu kaki di bumi,satu lagi di akhirat.Mirip nabi daud.sehari puasa sehari esok berbuka.

dalam deretan sufi,al adwiah disebut "raja".
wanita ini hamba yang total.hidupnya hanya buat cinta.gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain:getaran cinta ilahi.pernah ia berkata :

" bila kau ingin menganugrahiku nikmat duniawi,berikan itu pada musuh-musuhMu.dan bila engkau limpahkan aku nikmat surgawi,berikanlah itu pada sahabat2Mu.karena bagiku engkau cukup '' .ini tentu berkat ke "raja" annya.
lumrah.

lain itu yang terjadi pada Kang sejo.ia tukang pijet(maaf)kang saya sebut itu tuna netra.kang sejo pendek pula doanya.bahasa arab ia tidak tau.doanya bahasa jawa:

''Gusti allah ora sare''

potongan dari ayat kursi.zikir ia kuat.sebab,soal seruwet apapun yang dihadapi,ia hanya berujar :"Duh gusti,engkau yang tak pernah tidur " cuma itu.memang sederhana .

''memang hidup ini dasarnya cuma sederhana."katanya sambil memijit .

saya tertarik dengan cara hidupnya.saya belajar,guru saya ...yaaa.... semacam orang seperti ini.antara lain.

ketika saya tanya apa yang dilakukan disela memijit.dia bilang :"duh,gusti allah ora sare" dirumah,dijalan,ditempat bekerja,dimanapun ia berada.doanya yaa....Duh,gusti.....itu.satu tapi jelas ditangan.

''Berapa kali pak,dalamsehari?"tanya saya

"Tidak saya hitung."

"lho,apa tidak ada aturanya?para santri kan dituntun baca ini sekian ribu,itu sekian ribu?" kata saya.

''Monggo mawon" .jawabnya lagi :"Tuhan memberi rejeki pada kita tanpa perhitungan,kok.jadi ibadah pu tanpa hitungan."

"sampean itu seperti wali,loh kang ".saya sambil memuji.

"MOnggo mawon,ning wali murid ''.ia lalu tertawa.

Diam-diam ia sudah naik haji.langganan lama yang mentraktirnya ketanah suci.

"Seneng,sampean kang,sudah naik haji?"

"itu kan rejeki.dan rejeki datang dari sumber yang tak terduga ''.katanya

"ayat,menyebutkan itu kang?"

"monngo mawon saya tidak tau."

Ketularan bau arab,saya tanya kenapa doanya bahasa jawa?

"Apa tuhan taunya cuma bahasa arab??"

"Kalau sampean Duh gusti,Duh gusti di bis ,apa penumpang lain....

"dalam hati ,Mas.tak perlu diucapkan."

ia,konon,pernah menolak zakat dari seorang tetangganya.karena disodor-sodori,ia menyebut" Duh..Gusti,yang tak pernah tidur..''
Pemberi zakat itu,entah kenapa ,bagaimana ia ketakutan.ia mengaku uang itu memang kurang halal.ia minta maaf.

''Mengapa sampean tahu uang zakat itu haram?"tanya saya

"Rumah saya tiba2 panas.panas sekali."

"Kok sampean tau panas itu akibat si uang haram?"

"Gusti ALLAH ora sare mas " .jawabnya

''ya,saya mengerti,kang sejo''.

ibarat berjalan engkau telah sampai.dalam kegelapan matamu,kau talah mengenalNYA.Dan aku?aku masih dalam taraf terpesona.Terus menerus.....

petuah bapak

anak bertanya : pak, aku harus berteman dgn siapa ?



Bapak : anakku,bertemanlah dgn siapapun, ya dgn siapapun, ya tersenyumlah dgn siapapun, krn kamu gak tahu ,manusia yg mana yg dekat/jauh dgn-NYA, anakku DIA itu tuhannya semua manusia,ajenono,hormatilah... semua ciptaanNYA.....



ingat !!! semua manusia,...jangan liat(baju,sifat,ilmu,..) nya, tapi liat bentuk kodrat-NYA.............



Anak tanya lagi : pak kenapa air sungai mengalir deras?



"Sebab ada beda tinggi dan rendah dasar sungai



''Kehidupan pun begitu, ada perbedaan. Yg tertinggi yg paling taqwa, yaitu murid-2 Gusti Allah,yg sdh berada di maqam ma'rifat (robbany) yg menganggap rendah syariat.

Nah, yg rendah itu golongan kita yg terseok-seok mengamalkan syariat krn mengikuti jejak Rasulallah SAW.



'' Hati-hati nak dgn indah dan manisnya kata-kata mempesona yg diucapkan seseorang sampai kau dapatkan kesamaan antara ucapan dan tindakannya "

sabar

suatu ketika saya mencoba untuk
merasa
sabar...mengendalikannya
untuk tidak marah, kendatipun
rasa “nggrudel” marah itu masih
ada.

apakah saya sudah merasa
sabar?

ternyata tidak!


Ketika saya
merasa sudah sabar, saya
sebenarnya hanya menahan diri
untuk tidak emosi, belum
sesungguhnya menjadi orang
yang sabar. Karena itulah,
sekarang ini saya sedang
mencoba belajar untuk menjadi orang yang sabar tanpa
harus merasa bersabar.

Mencoba
yang demikian itu ternyata tidak
mudah, dan diperlukan sebuah
proses pelatihan yang panjang.

Menjadi sabar tanpa harus
merasa bersabar hanya bisa
terjadi kalau “sabar” itu sudah
menjadi sifat. Sedangkan sifat
seseorang itu akan dapat
berubah kalau melalui proses
pelatihan yang selalu berulang
berkali-kali.
Sabar sangat erat
kaitannya dengan ikhlas. Ikhlas
itu dapat diibaratkan seperti
sebuah pengorbanan mencintai
para putra-putri anda. Baik
ataupun buruk, anda akan tetap
mencintai tanpa merasa
terbebani. Atau seperti ketika
anda tanpa merasa terbebani
memberikan uang 500 perak
kepada pengamen jalanan. Tapi
ikhlaskah kalau memberi 1000
perak? Mungkin ikhlas tapi
dengan terpaksa karena adanya
uang kecil hanya uang 1000
perak. Dan juga sanggupkah
kalau mencintai para anak yatim
yang bukan anak anda, seperti
anda mencintai putra-putri
sendiri. Untuk itulah kita masih
harus belajar mengaji agama dan
filosofi spiritual. Kembali kepada

” sabar yang sebenarnya”

untuk
dapat mencapai sifat yang
demikian kita sudah harus
memulainya dengan belajar
mencapainya. Hal ini sebenarnya
bisa dimulai dengan menyikapi
dan memahami setiap kondisi
baik dan buruk yang membebani
perasaan kita, seperti halnya
dengan memahami tentang sifat
baik dan buruknya putra-putri
anda. Mengapa kita bisa dengan
mudah dan tanpa beban
memahami baik buruknya putra-
putri atau teman teman kita
sendiri. Jawabannya adalah
karena kita tahu persis setiap
sebab dan akibatnya serta latar
belakang mengenai baik dan
buruknya dan yang jelas adalah
keikhlasan kita untuk rela
berkorban.

Harus kita akui
dengan jujur, bahwa kesabaran
adalah hal yang paling sulit
ditegakkan dan kalau kita tidak
dapat bersabar dalam arti
sesungguhnya,bagaimana kita
akan ikhlas mau berkorban atau
memberi maaf atas kesalahan
orang kepada kita? Dengan
meminjam istilahnya Gus Dur :

“
memang mudah mengatakan
dalam bentuk kata-kata, tapi sulit
dilaksanakan, bukan ?”


Ya....
begitulah…!

MISKIN

BARANGKALI kalau ada doa dari Nabi Muhammad SAW yang tak populer zaman ini adalah "Allahumma ahyini miskinan waamitni miskinan wah syurni fizumratil masakin" (Ya Allah,hidupkan aku miskin. Matikan aku miskin. Dan kumpulkan aku(kelak di Padang Mahsyar) kedalam kelompok kaum miskin)

Miskin? Siapa suka!Boro-boro doa jadi miskin,harapan dapat rejeki tak kunjung kesampaian! Tetapi, itulah sebagian filosofi hidup yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita. Dan Nabi sendiri ternyata hidup dalam kondisi miskin.Ketika beliau wafat, tak ada harta yang diwariskan,bahkan konon masih menyisakan utang gadai kepada sejawatnya orang Yahudi.

Miskin adalah problematik kehidupan akibat kesenjangan sosial, penguasaan aset ekonomi,teknologi, dan pendidikan.

Orang-orang desa yang hidup di pegunungan, terutama di luar Pulau Jawa, yang tak pernah menikmati listrik, tak ada TV atau radio di rumah, sanggup berjalan kaki memikul beban naik-turun gunung, tak terasa miskin.Rutinitas kehidupan bersama yang mereka jalani, senasib sederajat, tak menimbulkan kesenjangan. Mereka senang,bahagia menikmati kehidupan bersahaja.

Ketika seorang kepala suku IrianJaya (Papua) diundang Presiden Soekarno ke Jakarta pada 1960-an, dia tersadar bahwa masyarakatnya di Papua miskin.

Menyaksikan Jakarta, mobil berseliweran di atas jalan beraspal, gedung tinggi, hotel tempat dia menginap gemerlap cahaya, beralas karpet empuk,dingin, menyenangkan. Dia lalu bertanya kepada wartawan,mengapa ini semua tak ada di Papua? Rakyat Papua miskin!

Ilustrasi - Dunia modern dengan perangkat teknologinya yang kapitalistik kini mendorong masyarakatnya berlomba merebut peluang. Siapa yang paling banyak memperoleh kesempatan dan dapat mengelola dengan baik, merekalah yang menguasai, kaya. Yang kalah bersaing tak kebagian apa pun,jatuh miskin.

Nabi mengajarkan kenaifan hidup? Jelas tidak. Ajaran doa jadi kaya, rezeki melimpah, banyak sekali. Ayat Al-Quran yang pertama kali turun (Iqra �) dan anjuran hadits untuk mencari ilmu sampai ke Negeri Cina mendorong etos keunggulan yang tinggi. Bahkan umatnya didorong untuk bersaing (istibaq)dalam kebaikan, termasuk bersaing dalam penguasaan aset ekonomi, teknologi, dan pendidikan. Lalu, mengapa Nabi mengajarkan doa jadi miskin?Itulah filosofi hidup yang mengutamakan keadilan. Siapapun boleh berusaha dan berharap jadi kaya, tetapi jangan rakus. Ibarat sebuah pertandingan --hidup adalah sebuah permainan (la'ibun walahwun)-- setiap persaingan akan menghasilkan menang dan kalah.Bagi yang menang, tunjukkan empati kepada yang kalah agar tetap punya harapan. Yang kalah jangan putus asa. Sebab, itulah satu-satunya modal agar yang kalah dapat bangkit kembali,sementara yang menang tidak rakus.

Berlakulah jujur untuk menang, sebab suatu kemenangan dengan cara perselingkuhan, manipulasi, atau korupsi hanya akan menimbulkan tuntutan perlakuan yang sama dari yang kalah. Kalau demikian yang terjadi, itu adalah anarki.

Tetapi, teknologi dan kapitalisme tak pernah memberi empati kepada yang kalah dan miskin.Makin modern kehidupan kita,makin kuat kecenderungan kapitalistik dan rakus teknologi,maka kesenjangan makin lebar.Manusia diganti robot dan mesin.

Awalnya muncul kecenderungan multinasional, kini tuntutannya global, tak lagi ada sekat. Yang miskin dan kalah terus digempur tanpa perlindungan.Dalam konteks seperti ini, doa yang diajarkan Nabi patut jadi bahan renungan. Jadi miskin tak berarti serba kekurangan dan mendorong keberingasan sosial.Jadi miskin adalah sikap hidup yang senantiasa memberi empati kepada yang miskin dan lemah.

Meski kita jadi kaya dan berlimpah harta, tak berarti apapun jika tak memberi kontribusi untuk mengangkat yang kalah dan jatuh miskin. Jika kita mendapat peluang dan mampu menguasai aset kehidupan, bukan karena dorongan sikap rakus dan tamak, melainkan karena empati kepada si miskin, untuk menanggung kehidupan ini bersama-sama.Para pejabat, pengusaha,konglomerat, politikus, atau para aparat dan semua orang kaya lainnya, yang mendapat kekayaan karena perselingkuhan,manipulasi, menipu, korupsi, dan curang, berarti tak menunjukkan empati kepada yang miskin.

Mereka akan jadi musuh kelompok miskin, sampai kelak ketika berkumpul di Padang Mahsyar, mereka terisolasi dari rombongan yang dipimpin Nabi Muhammad SAW. Sebab, seperti dalam hadits yang berisi doa tadi,Nabi akan selalu berpihak pada orang miskin, lemah, kalah, dan mereka yang berempati.

Perjuangan kaum miskin untuk mendapat keadilan tak berhenti ketika mereka masih hidup.Bahkan sesudah mati pun,mereka masih tetap akan"memberontak" kepada Tuhan.Mereka akan bersaksi kepada Tuhan, sejumlah orang kaya,pejabat, dan politisi berselingkuh,korupsi, dan curang.

Nah, kalau begitu, bacalah doa untuk jadi miskin seperti yang diajarkan Nabi agar tak kehilangan rasa empati dan tak rakus. Dan tak beringas dengan rasa iri dan dengki karena miskin dan kalah.

SUMUR KERING

pernah saya baca kisah seorang ahli bahasa terperosok ke dalam sebuah sumur kering. Ia tak bisa naik. Ketika tampak olehnya orang bertopi melongok kebawah, ia berteriak minta tolong.

“Tolonglah, keluarkan aku dari sini.”

“Oke,” jawab orang bertopi itu. Ia seorang sufi yang bermaksud mencari air minum.

“Tunggulah sebentar, aku cari tali dan tangga” kata sang sufi lagi

“Huss, logika bahasamu salah ” teriak si ahli bahasa.

“Seharusnya kau bilang tangga, baru kemudian tali, ” katanya lagi.

Sufi kita, yang biasa berpikir tentang hakikat, tertegun sejenak.Ia menyadari betapa tak mudah berurusan dengan orang yang bisa cerewet mengenai persoalan“ kulit” dan abai terhadap perkara“isi”. Tapi kemudian ia menyahut lagi.

“Baiklah Bung, kalau dalam keadaan darurat begini kau masih lebih mengutamakan kaidah bahasa ketimbang keselamatan jiwamu, tunggulah lima tahun disitu sampai saya kembali sebagai ahli bahasa. ”

Sang sufi kemudian melangkah anggun menjauhi tempat itu dan tinggallah ahli bahasa kita,termenung-menung menyesali orientasinya yang sering kelewat teknis dalam menghadapi persoalan hidup yang kompleks dan warna-warni itu.

Boleh jadi, ahli bahasa dan sufi dalam kisah ini tak pernah ada.Kisah ini, dengan kata lain, bisa saja cuma sebuah rekaan belaka.Tapi bahwa manusia dengan sikap dan pemikiran seperti mereka itu ada di sekitar kita, sebaiknya tak usah diragukan.

Saya pikir-pikir, kisah itu merupakan sebuah karikatur yang pas buat dua orang tokoh di kampung saya: Haji Mangil dan Kang Kamidin. Haji Mangil itu resminya imam masjid. Dalam urusan doa-doa, selamatan dan aneka ritus agamis ia berada di“ depan”.

Orang banyak telah mengkiai-kan dia.Tetapi kekuasaan real Haji Mangil jauh lebih besar lagi karena ia ternyata juga dominan secara politis.

Kang Kamidin sebaliknya. Ia tak “tampak”. Kehadirannya dalam,dan absennya dari, pertemuan,misalnya, tak menambah dan tak mengurangi arti apa pun.Pendeknya, ia tidak “dihitung”. Ia bukan pengikut yang baik.

Diajak tahlilan tidak mau. Diajak Yasinan tiap malam Jum ’at sering mencolot diam-diam,karena tidak hapal surat Yasin. Buat apa anggota macam dia?

Saya sendiri netral. Posisi “non-blok” ini membuat saya bisa luwes berdialog dengan pihak manapun.

Pernah suatu hari, setelah sholat lohor di masjid, saya bertanya pada “kiai” kita, mengapa ia begitu menekankan perlunya menghapal doa dan ayat-ayat.

“Kamu ini bagaimana, semuanya itu kunci pokok. Kita dilarang melakukan suatu amal bila kita tak paham akan ilmunya.Ngerti ?”

Karena saya kelihatan belum mengerti, Haji Mangil pun memberi contoh.

“Bila tak paham ilmu, kita beramal, itu ibarat tukang jahit memotong-motong kain seorang pelanggan sebelum ditanya buat apa kain itu, ”katanya.

“Dia potong buat jas, padahal pelanggan mau bikin celana. Kan kacau jadinya ?” kata Pak Haji lagi.Saya tahu, Pak Haji menyindir Kang Kamidin yang rajin puasa Senin-Kamis, rajin shalat malam,tapi buta ayat dan doa-doa.

“Maksudnya, amal itu tak sampai pada Tuhan?''

“Jelas tidak. Amal begitu sama dengan surat tanpa alamat. Surat sudah ditulis, sudah dimasukkan ke dalam amplop, sudah ada prangko, tapi tak ada alamat. Kemana tukang pos mau menyampaikannya, coba ?”

Pak Haji seorang formalis. Ia bangga bahwa Islam tegas mengajarkan sikap disiplin.Berulang-ulang dia anjurkan jamaah berdisiplin memegang waktu, agar dalam shalat jamaah ada di shaf paling depan.“Shaf paling depan itu pahalanya paling besar: dapat unta,”katanya.

“Belakangnya cuma lembu. Belakangnya lagi kambing. Nah, terserah kita. Mau pilih kelas unta apa puas dengan kelas kambing”. katanya lagi

“Kalau begitu berarti Pak Haji selalu dapat unta, dan orang lain cuma kambing, mungkin malah cuma burung emprit ” kata saya.

“Salah mereka sendiri bukan,memilih kelas emprit?”

Para jamaah setuju seratus persen. Tapi Kang Kamidin, yang tidak termasuk main stream itu,tentu tak akur dengan “kalkulasi”tersebut.

“Ibadah ya ibadah,” kata Kang Kamidin.

“Maksudnya?”

“Ibadah itu bukti ketulusan hati.Jadi tak usah dikaitkan dengan pahala”.

“Tapi pahala kan memang dijanjikan?”

“Ya, bagi ‘anak kecil’ yang menyapu demi hadiah permen;bagi jiwa yang sujud demi pahala”

“Apakah berarti Haji Mangil salah?”

“Kita tak punya hak menilai ibadah orang lain. Itu urusan Tuhan. ”

Saya pun bertanya, bagaimana sikapnya terhadap pandangan“ kiai” kita yang menganggap ibadah tanpa ilmu ibarat surat tanpa alamat?

“Tuhan tak sebodoh tukang pos,Mas” katanya.

Lama saya berpikir. Di balik kesederhanaannya itu terselip kecanggihan. Ia tidak mau terperosok ke dalam “sumur kering” penalaran yang serba formal dan teknis.Rhoma Irama pernah bilang bahwa lagu-lagunya keluar dari hati, dan pasti akan sampai ke hati.

Kang Kamidin tampaknya bersikap sama: ibadah yang tulus dari hati,akan ketangkap juga oleh gelombang cahaya Tuhan, yang maha besar kasihnya, yang tak terhingga ampunannya, dan yang maha tahu pula .

betapa kita ini cuma boneka-boneka tolol, dimata-Nya